Pelajar SMP Negeri 17 Palangka Raya dibekali pengetahuan menghadapi karhutla, banjir, dan kabut asap.
CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Palangka Raya menyosialisasikan mitigasi bencana kepada pelajar SMP Negeri 17 Palangka Raya.
Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun kesadaran dan kesiapsiagaan bencana sejak dini di lingkungan sekolah.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Pauzi, mengatakan pelajar perlu memahami potensi bencana yang dapat terjadi di wilayah Kota Palangka Raya.
Menurutnya, pemahaman kebencanaan tidak hanya penting untuk keselamatan diri, tetapi juga dapat disebarluaskan kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
“Dalam sosialisasi itu, siswa diberikan materi mengenai berbagai potensi bencana yang dapat terjadi di Kota Palangka Raya, seperti kebakaran hutan dan lahan, banjir, serta kabut asap,” ujar Heri.
Sekolah Jadi Sasaran Edukasi
BPBD Palangka Raya menjadikan sekolah sebagai salah satu sasaran edukasi mitigasi bencana. Pelajar dinilai memiliki peran penting dalam membangun budaya sadar bencana di masyarakat.
Melalui sosialisasi ini, siswa tidak hanya mendapat pengetahuan dasar tentang jenis bencana. Mereka juga diberikan pemahaman mengenai langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi darurat.
Heri menjelaskan, edukasi kebencanaan kepada pelajar merupakan bagian dari program yang rutin dilaksanakan BPBD. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam mengenali risiko di lingkungan sekitar.
Dengan pengetahuan yang cukup, pelajar diharapkan tidak panik saat terjadi bencana. Mereka juga dapat mengambil langkah cepat dan tepat untuk menyelamatkan diri.
Karhutla, Banjir, dan Kabut Asap
Dalam kegiatan tersebut, BPBD menyampaikan materi terkait sejumlah potensi bencana yang perlu diwaspadai di Kota Palangka Raya.
Beberapa ancaman yang dikenalkan kepada pelajar antara lain kebakaran hutan dan lahan, banjir, serta kabut asap. Tiga potensi bencana ini kerap menjadi perhatian di wilayah Kalimantan Tengah, terutama saat musim kemarau dan ketika curah hujan meningkat.
BPBD juga menjelaskan langkah mitigasi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko. Materi itu mencakup cara mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga keselamatan diri, dan memahami jalur komunikasi saat kondisi darurat.
“Selain itu, dijelaskan pula langkah-langkah mitigasi yang harus dilakukan untuk meminimalkan risiko saat bencana terjadi,” kata Heri.
Bangun Budaya Sadar Bencana
Sosialisasi mitigasi bencana di sekolah tidak hanya menargetkan pemahaman teori. BPBD ingin pelajar mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Budaya sadar bencana perlu dibangun dari lingkungan paling dekat, termasuk sekolah dan keluarga. Ketika siswa memahami risiko bencana, mereka dapat ikut mengingatkan orang tua, teman, dan warga sekitar.
Langkah ini penting karena penanganan bencana tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Masyarakat juga harus memiliki kesiapan dasar agar dampak bencana dapat ditekan.
Sekolah pun memiliki posisi strategis. Selain menjadi tempat belajar, sekolah dapat menjadi ruang pembentukan kebiasaan tanggap darurat, mulai dari mengenali titik kumpul, menjaga lingkungan, hingga memahami prosedur evakuasi.
Kesiapsiagaan Harus Dimulai Dini
Kesiapsiagaan bencana tidak bisa menunggu peristiwa terjadi. Edukasi perlu dilakukan sebelum kondisi darurat muncul agar masyarakat lebih siap menghadapi risiko.
Bagi pelajar, pemahaman mitigasi bencana menjadi bekal penting. Pengetahuan tersebut dapat membantu mereka bersikap lebih tenang, waspada, dan tidak mudah panik ketika menghadapi situasi berbahaya.
BPBD Palangka Raya berharap kegiatan serupa terus menjangkau sekolah lain. Semakin banyak pelajar yang memahami mitigasi, semakin besar peluang terbentuknya masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.
Pemerintah kota juga perlu memastikan edukasi kebencanaan tidak berhenti pada sosialisasi sesaat. Program ini perlu disertai simulasi berkala, penguatan sarana keselamatan sekolah, serta pembaruan informasi risiko bencana di tiap wilayah.
Dengan begitu, pelajar tidak hanya mengetahui teori mitigasi, tetapi juga siap menerapkan langkah keselamatan ketika bencana benar-benar terjadi.